Kosong

Discussion in 'Ruang Curhat' started by UsefullGirl, 29 April 2020.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. UsefullGirl

    UsefullGirl New Member

    Waktu kecil dulu kayaknya selalu excited dengan apapun. Senang dalam hal sederhana, sedih dalam hal sederhana juga. Sepertinya saat kecil benar-benar merasakan segala sesuatu dengan semangat. Teman juga banyak, kesibukan kita hampir sama, yaitu tugas rumah dan tugas sekolah. Tidak memikirkan bagaimana esok ataupun seterusnya. Yang ada di kepala hanya "bagaimana tugas sekolah aku selesai?", "besok aku akan bermain permainan ini bersama dia, dia, dan dia", "wah ada episode baru kartun ini, aku ga boleh terlewat".
    Senang banget, kesulitan sepertinya hanya pr matematika. Menangis hanya karena hal tersebut.

    Lanjut smp, ada rasa hilang sedikit. Kawan kecil sudah jarang bertemu karena beda sekolah dan beda jam masuk/pulang sekolah. Tapi masih ada kawan yang banyak dari smp. Bahkan saya menemukan orang yang bisa saya katakan sahabat buat saya karena sampai saat ini hanya dia yang tersisa berteman dekat dengan saya. Tapi, ada satu perasaan yg muncul, mungkin kalau sekarang namanya insecure, karena melihat orang-orang yang lebih berbakat dan pintar jauh dari saya. Guru2 juga pada pilih kasih, hanya yang pintar dan cantik yang mereka perhatikan. Saya tidak bohong soal ini. Bahkan saya dulu smp dirundung karena sifat saya yang defensif (?). Saya sangat malu bertemu banyak orang. Ketika ada tugas seni dan saya diminta bernyanyi, teman2 saya di kelas mendengarkan sepintas dan mengatakan dengan jelas bahwa suara saya jelek, fals. Guru saya pun tidak mendengarkan saya. Asik dengan handphonenya. Dulu, saya juara satu dalam acara bulan bahasa untuk bahasa inggris. Walau hadiah hanya satu kardus minuman soda, sertifikat, dan piala tapi itu pencapaian saya. Namun, satu sekolah tidak peduli. Pengumuman juara dianggap tidak penting dan membuang2 waktu. Rasanya ingin menangis saat itu. Tapi melihat teman2 mengambil minuman sodanya membuat saya merasa lega. Hadiah saya amat bermanfaat. Ada lagi, ketika saya mendaftar di sebuah sma swasta karena hopeless dengan sma negeri. Ada kawan yg saya anggap dekat, tapi saya tidak tau dia membeli formulir pendaftaran di sekolah itu juga. Dia mengatakan di belakang saya "kenapa harus dia si. Benci bgt gua sama dia". Sakit sekali rasanya. Akhirnya saya bertekad dapat sekolah negeri dan serius untuk itu.

    Masa menyedihkan itu berakhir. Saya lanjut sma. Saya bersekolah di sekolah favorite orang2 pada masa itu. Menyenangkan, walau saya kebagian kelas anak nakal. Tapi saya sangat serius dalam belajar. Karena disini, saya mulai sedikit berpikir masa depan. Saya berusaha lupa dengan masa smp, bahkan saya lost contact dengan semua orang yg dulu satu sekolah dengan saya. Hanya satu orang yg masih bertahan dengan saya. Di sma, saya suka atau kagum dengan seseorang laki2 yg saya anggap manis. Memandangnya saja membuat saya senang, karena kelakuan kawan saya, dia jadi tau bahwa saya suka. Dan dia merasa terganggu dan amat2 menjauh dari saya. Kalau ngobrolin tugas dengan saya, dia tidak pernah melihat wajah saya. Bahkan tidak pernah menghubungi saya secara langsung . Sedih. Tak apa saya ke sekolah untuk belajar, bukan cari pacar. Terus berlanjut sampai akhir tidak ada yg saya sukai, tapi saya dapat pengalaman seru dan kawan baru satu frekuensi.

    Kuliah, di bayangan saya sangat amat menyenangkan. Namun tidak juga. Saya harus pisah dengan sahabat saya, saya harus melakukan perjalanan pulang pergi sejauh 29 km dengan transportasi krl. Perjalanan pergi ke kampus selama dua jam, pulang juga dua jam atau bisa lebih lama karena jadwal kereta yang amat padat. Saya melakukan hal tersebut karena tekanan dari kakak saya yang berkata "lu pikirin orang tua lu kalo biayain lu ngekos di jakarta". Saya sampai menangis menulis ini. Jujur saya sangat capek dan lelah karena harus bangun sebelum subuh, menahan kantuk atau lapar, apalagi di masa ujian, berat sekali. Saya tahan terus capek saya itu agar saya lulus tepat waktu. Di masa kuliah pun saya tidak begitu banyak teman, padahal saya coba bergaul. Saya selalu memiliki nilai tinggi pada mata kuliah yang ada perhitungannya. Tapi orang2 mendekat hanya untuk belajar. Bukan menetap. Saya ingin sekali mengatakan pada lainnya jika sudah malam pada saat praktikum selesai, tolong antarkan saya sampai stasiun. Tapi saya tidak bisa mengatakan itu. Saya naik angkot agar murah, angkot terakhir jam 19.00 dan praktikum selesai 18.45, saya harus berlarian agar tidak ketinggalan. Saya harus hemat dengan uang jajan saya yang sedikit.

    Saya sudah lulus sekarang, saya rindu masa kecil saya. Amat rindu. Sekarang semuanya sibuk, teman hanya sedikit, kerjaan yg baru saya dapat terkena dampak korona. Huft, rasanya kosong. Sangat kosong. Saya tidak bisa berbagi cerita ke siapapun. Maaf tulisan saya terlalu panjang
     
    KodokTerbang and Niyaaat like this.
  2. nggak papa sii, aye tau gimana perasaan kamu menjadi seorang yang berjuang sendiri. Yah, semoga kamu dapat teman atau sahabat atau pasangan yang setia dan bakal menemani kamu nantinya. Amiin
     
  3. Tujuh

    Tujuh Member

    Welcome to the JUNGLE
     

Share This Page