Lost

Discussion in 'Ruang Curhat' started by Reika, 30 August 2019.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. Reika

    Reika Member

    Belum habis tanyaku tentang apa itu manusia
    Aku menjalani hari biasa dimana ku bangun siang, bangun bareng bersamanya, sama2 sayang, meski jarang dekat, hariku baik2 saja sampai ketika senja datang
    Orang yg selalu kusayangi, yg tadinya kita bangun bersama, sarapan bersama, dia pergi...kutanya, "Pulang jam berapa?", "Sebentar..yah paling habis magrib"

    Benar, dia pulang habis magrib, sudah terbujur kaku. Sudah banyak kehilangan yg tersayang, tapi entah ga bisa terbiasa atau memang ga seharusnya terbiasa...?
    I cried, biasanya ada yg selalu menghiburku, mengusap kepalaku dan bilang "Sayang..."

    Ah, ku baru sadar...karena yg kutangisi adalah dia yg selalu ada kapanpun dimanapun kubutuhkan...

    Rasanya...badanku dingin, kenapa ga ambil nyawaku saja? toh kalau nyawa, bakal dengan senang hati kuberikan, asal dia hidup...

    Sudah 2 hari, kuharap ini cuma mimpi, tapi...tiap kutengok ke tempat dimana dia berada, dirinya tak ada lagi...

    Ayah...
     
  2. rikisibarani

    rikisibarani Well-Known Member

  3. Reika

    Reika Member

    "Kalau rindu, bacakan doa" kata mereka.
    "Hidup lah yg tegar demi dia".

    Sudah...
    Tapi bohong kalau kubilang itu bisa mengobati rasa sakit ini, bohong...
    Bohong kalau kubilang, "Ya demi dia aku akan sukses", menyadari diri inilah orang yg paling tak bisa kupercaya...
    Tanpa sadar gw selalu bergantung sama dia meski dia selalu memuji kalo aku anak yg pinter...like all dads did

    Pernah ga sih yg awalnya lu mikir keluarga gw bakal baik2 aja kok, dan ternyata 1 per 1 anggota keluarga inti yg lu temuin tiap hari mati..?

    Ku jg bukan family person, it's okay kalo kita bahkan jarang ngomong ato bercanda bareng...asal kita tau mereka sehat dan baik2 saja...tapi...man...ga tau lah sumpah, harusnya kemaren habis dokternya ngumumin waktu kematian ayah, ku minta tolong buat dibunuh aja y...goblok bgt emang..
     
  4. Maiia

    Maiia Well-Known Member

    Iya

    Pasti sakit banget perpisahan itu, apalagi kalau kita gak atau belum mampu nerimo.

    Tapi kadang mikir juga, apa ini yg terbaik buat kita atau buat almarhum sendiri?
    Apa menangisi atau melukai diri sendiri akan mengembalikan yang telah pergi?
    Kadang yang kita tangisi justru diri kita sendiri karna kita sendirilah yang gak dan belum mampu hidup tanpanya.
    Kadang rasa penyesalan juga hadir kenapa kematian itu datang seperti hantu, tanpa permisi tiba2 datang sementara kita belum ready.
    Apa Tuhan sebegitu tega melihat kita menahan sakit itu? Tentu ngga seperti itu

    Menurutku, nikmati kesedihan itu
    Hingga akhirnya kita lupa seberapa sakitnya sedih itu
    Mungkin waktu akan mengobati rasa sakitnya, meski kadang tetap meledak saat mengunjungi makamnya

    Aku sudah melihat itu dan mengalaminya, saat ku lihat ibuku melepaskan anak bungsu kesayangannya dan saat beliau mengunjungi makamnya....
    Ku lihat ibuku yg rapuh , padahal selama ini dia selalu tegar.
    Padahal masih ada kami anak2nya yg lain, tapi ibuku tetap terlihat sangat berduka.

    Kamu pun pasti begitu....
     
    Reika and rikisibarani like this.
  5. Tujuh

    Tujuh New Member

    ikhlas.
    semua yg ada padamu, bukan milik mu.
     
  6. Niyaaat

    Niyaaat Active Member

    Semua akan kembali...
    Smua akan terjadi pada waktunya.
    Cepat atau lambat, kita akan bisa menerima semua garis Tuhan.
    Aku tahu ini sulit.. tapi hey, bersabarlah.. ikhlaskan...
    Betul ucapmu.. kamu udh tahu bahagimana caranya...Jalani hidupmu semaksimal mungkin esok hari. Buat dia tersenyum dan bangga melihatmu dari atas sana.. jangan buat dia khawatir dan sedih karena sikapmu yang terkadang memang masih sulit melepaskannya.

    Hey, its okay not to be okay.
    Take ur time...
    U did great and everything will be alright soon, God promise for those who believes.
     
    rikisibarani likes this.
  7. Reika

    Reika Member

    Ya. 5 tahun lalu ku juga lihat ibuku, ibu kami yg kehilangan anak pertamanya yg sudah dibesarkan sepenuh hati dan sebentar lagi sukses bisa bantu keluarga, kakak laki2ku, sama seperti ibumu, begitu rapuh, selebihnya, kalo kangen kami kunjungi makamnya bareng2, kalo aku dan adikku ga bisa, ayah dan ibuku biasa pergi tengok kakak bareng, belum selesai ngobatin rapuhnya, sekarang orang yg selalu nemenin ke makam juga ikutan jadi makam di sebelah kakak.

    Benar katamu. Terkadang kita justru menangisi diri yg ga mampu tanpa mereka. Dimana di 1 sisi positif kita bisa melatih diri untuk jadi kuat pelan2. Tapi...kadang buatku pribadi, lebih sakit karena kehilangan kenangan sama orang itu. Ah, kenangan ga hilang. Tapi sakit mengingatnya, mengingat orang dalam kenangan itu udah ga ada. Mengingat ga ada lagi momen yg bisa kita lewati bersamanya...Bahkan bukan kegiatan atau aktivitasnya, sakit itu sesimple karena keberadaannya udah ga ada lagi.

    Sekarang dengan orang2 rumah yg tersisa ini, ku ga tau seandainya ada 1 lagi dr kami yg mati, bakal kaya gimana, mungkin ku akan ikut juga...

    Semoga keluarga dan orang2 yg kalian sayangi baik2 saja
     
    Maiia likes this.

Share This Page