Terjebak

Discussion in 'Ruang Curhat' started by Ghosty Girl, 24 February 2019.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. Ghosty Girl

    Ghosty Girl Active Member

    Kalian pernah dititik dimana banyak sekali hal yang ingin kalian maafkan saja, lupakan atau hiraukan, bersikap seolah itu bukan terjadi pada dirimu. Tapi emosi tak bisa dibendung, semua pikiran yang ada menghantui dan akhirnya berakhir emosional dan dada rasa sesak, seolah tidak ada lagi yang mampu membuatmu menjadi kuat.
    Aku ingin sekali setiap hari memulai garis start yang baru, banyak hal yang ingin kulupakan, kumaafkan tapi mereka menghantui.
    Tapi bahkan, aku tak mampu berucap, tak mampu menyampaikan yang kurasa, padahal aku tak terbiasa.
    Apa ini anxiety? Depresi? Stress?
    Apa aku terjebak di ruang dewasa ini? atau yang kudapat kelewat rumit?
     
  2. @Ghosty Girl : Apa ini anxiety? Depresi? Stress?
    Anxiety dan depresi idealnya dr diagnosa setau gw. Coba dicek dah. Ibarat org sakit diabetes hormon insulinnya berhenti diproduksi tubuh. Depresi jg gitu, ada proses yg cacat dlm tubuh dan otak yg kehilangan senyawa neuro-transmitters terutama serotonin. Kalo zat ini merosot, org sulit menjalani hidup, motivasinya mati, terus2an ga hepi. Pemicu atau stressor bisa ada aja, coping mechanism-nya yg ilang. Makanya penderita depresi diresepkan obat2an. Kalo ringan bs jg kebantu lingkungan, temen, hobi, grup, dsb, kalo berat kudu dipegang spesialis. Depresi itu penyakit.

    Depresi ga selalu spt sedih, frustrasi, tertekan, dll yg timbul krn kenyataan hidupnya ga memenuhi harapan hidup itu sendiri. Depresi bisa timbul tanpa pemicu. Org depresi bisa keliatan seneng dan bersinar tp menit berikutnya tenggelam dlm kekosongan dan ketiadaan yg pekat, cerah diluar sekarat didalam, yg berujung pd tendensi suicidal ato bunuh diri. Ini spektrum perjalanan meski kayak spontan.

    Sebagian kecil ini yg gw dapet dr testimoni temen dan org2 sbg penderita dan praktisi, yg membagi pengalaman mrk deal with depression demi mental illnesses awareness dlm membongkar stigmanya dgn membicarakannya.
     

Share This Page