ada apa dengan nasibku Sam sedang melamun entah apa saja yang ia lamunkan kurang begitu jelas karena yang tampak diwajahnya hanya kekosongan, mungkin ia sedang meratapi hidupnya yang kian hari semakin tidak jelas juntrungnya yang kesehariannya hanya disitu-situ dan begitu-begitu saja, saking dalamnya lamunannya sampai-sampai ia tidak menyadari kedatangan pamannya, “woooooyy...!!,” paman sam mengagetkannya sambil tertawa, “astagfirullah,,, ah paman mengagetkan saja” celetuk sam. “enak ya tiap hari cuma ngelamun saja kerjanya,” ujar paman sam, “lha kok ngelamun, nganggur saja jadi kerjaan, coba saja paman tanya saya kerjaanku apa? Pasti saya jawab nganggur,” sahut sam. Paman sam tertawa “iya saja lah, nanti malah panjang urusannya, eh sam saya mau tanya hal penting ke kamu tapi kamu jangan bilang ke siapapun ya?,” sam tampak curiga, “mau tanya apa paman?” , “janji ya tidak bilang siapa-siapa?” paman sam ngerayu, sam menggumam, “tergantung hal apa dulu saya tidak bisa janji.” “gini sam, poligami itu boleh ndak sih?” tanya paman sam dengan muka ngeselin, dengan mata sinis mas sam “apaan sih paman tanya hal itu ke saya? Mau nyindir atau giman? Saya tegaskan ya paman, saya nikah saja tidak kok malah ditanya poligami? Maksudnya apa?”. “tidak maksud gimana-gimana hanya tanya saja, siapa tau kamu punya pertimbangan bagus soal itu, kan sedia payung sebelum hujan” dengan plengah-plengeh ujar paman sam. Mas sam ngancem “paman mau kawin lagi ya? Saya bilangin bibi lho!” Karena merasa kesal mas sam pun nyletup “maaf ya paman, pertanyaan paman sangat tidak berdasar, poligami bukan masalah boleh/tidak boleh, menikah itu kan bisa 1, bisa 2, bisa 3, bisa 4 terserah mau berapa, hanya saja yang jadi masalah ketepatan untuk menentukan pilihan dan mempertibangkan sebab-akibatnya supaya tidak jadi masalah karena pada dasarnya setiap perempuan cenderung tidak akan mau dipoligami, tapi sebaliknya dengan laki-laki, yang pasti tidak semua orang sama karena setiap orang pasti akan menemukan alasannya masing-masing untuk menikah 1, 2, 3, atau 4 sedangkan baik-buruknya alasan itu relatif dari sudut pandang yang bagai mana.” “saya kan kaya, banyak harta, saya mampu mencukupi 4 dan bahkan lebih dari 4 orang istri saya mampu, saya yakin bisa berlaku adil, apakah salah jika saya menikah lagi?,” tanya paman sam. Mas sam dengan nada halus menjawab “bukan perkara salah benar paman, adilpun tidak sekedar bagi rata semua harus diperhatikan sebab-akibatnya, jika paman hendak menikah lagi paman juga harus melihat kemungkian-kemungkinan yang mungkin terjadi? Baik pada istri, anak, keluarga? Bibi kan orangnya baik, pintar, cerdas, lembut, cantik pula tapi saya rasa bibi tidak akan rela jika paman menikah lagi, kebaikan seorang perempuan tidak terletak pada mau/tidak mau dipoligami, bibi sudah mau dinikahi paman saja itu juga sebuah kebaikannya juga. kalo paman asal menikah lagi sangat mungkin bibi nuntut cerai, karena bibi punya kesanggupan lebih untuk hidup tanpa paman, bibi kan baik, lembut, cerdas, pintar, cantik, saya rasa dengan mudahnya bibi minta cerai karena bibi punya bekal yang layak untuk bisa menikah lagi/hidup sendiri, kan paman juga tau bibi dulu mau menikah dengan paman bukan atas dasar materi/harta paman, soalnya paman dulu juga miskin kan? Hahaahaaaa,,,,,, seandainya paman saat ini miskin saya rasa bibi tetap akan bersama paman. Jangan asal lho paman ini, kalo paman mau menikah lagi/poligami karena kesanggupan paman pada harta/materi ya silahkan saja menikah dengan perempuan yang memang menginginkan itu sejak awal , , , dan itu sah-sah saja baik-baik saja, kan baik juga jika perempuan bisa jujur sejak awal tidak munafik kalo mau dinikahi dengan alasan dicukupi dengan lebih karena sadar kalau dirinya tidak sanggup untuk mengalami banyak kemungkinan susah senang dalam hidup. Setiap orang punya kelemahan dan kekuatannya masing-masing, kebaikan keburukan seseorang sangat variatif tidak terletak pada satu titik permasalahan saja. bibi kan dari awal sudah rela menderita dengan paman, hidup pas-pasan dulunya masa iya paman tega menyakiti hatinya bibi setelah berkecukupan? Tapi silahkan saja jika paman ingin punya masalah, kalau hanya bermasalah dengan manusia saja saya rasa sangat mungkin mudah untuk diselesaikan, tapi kalau bermasalah dengan Allah karena menyakiti orang yang Dia cintai ya silahkan saja kalau berani, saya ndak ikut-ikut. jin, setan, iblis pun saya rasa akan pikir-pikir seribu kali untuk menyakiti orang seperti bibi, masa ia paman merem dengan kebaikan bibi? Dijaman seperti saat ini sangat langka orang yang punya kelembutan hati seperti bibi, apakah bibi pernah nuntut paman ini itu? Mengharuskan paman ini itu? Bahkan dalam kondisi kepayahan paman saat muda dulu bibi tetap ta’dim istiqomah mengasihi menyayangi mencintai paman seadanya dan tidak diada-adakan, itukan sesuatu banget bagi saya” “ahahahaaaa,,,, ngarep ya nemu perempuan seperti bibimu? Mana ada yang mau sama kamu sam? Soalnya kondisimu itu terlalu sangat payah dan menyedihkan, dan nyaris tidak bisa diperbaiki oleh manusia, kecuali oleh Allah sendiri yang memperbaiki, tapi gini sam, katanya perempuan yang mau dipoligami kan baik? Mau sabar ikhlas nerima?” ujar paman sam. Mas sam menanggapi “kan tadi sudah saya bilang kebaikan bukan hanya berada pada mau/tidak mau dipoligami, segala sesuatu sangat mungkin baik dan mungkin buruk juga, setiap orang punya kebaikan dan keburukan sendiri-sendiri, tidak mau dipoligami pun bisa jadi kebaikan juga asal perempuan tau menempatkan diri seperti hal nya bibi, bibi punya kebaikan yang layak untuk dihargai dan dijaga perasaannya selain itu bibi juga sangat memenuhi syarat untuk paman agar bersabar tidak menikah lagi, kalau paman ngeyel ya silahkan saja kawin lagi paling pada akhirnya menysal juga. jika saya ngarep nemu orang seperti bibi ya wajar saja lah paman, sudah baik, berbakti, pintar, cerdas, cantik, sabar, ramah kurang gimana lagi? Bahkan seandainya dulu bibi mau mencari orang yang lebih kaya dari paman sekarang ini sangat mudah dan sangat memenuhi syarat baginya, tapi kenyataannya bibi malah mau rela menderita ngurusin orang seperti paman kan? Tidak bersyukur banget sih paman ini jadi orang!” Paman sam tertawa melihat respon sam yang tampak kesal “yang mau kawin lagi siapa sam? Saya kan hanya tanya saja, kan saya juga bilang seandainya hanya berandai-andai, tapi setidaknya saya jadi tau kalau kamu sebenernya masih lumayan waras masih mikir perempuan juga” “saya tidak mikir perempuan saya tadi Cuma berpendapat saja” ujar mas sam dengan ketus. “katanya wajar ngarep nemu orang seperti bibimu?” tanya paman sam dengan nada meledek. Mas sam sok jaim “kan tadi saya bilang ‘Jika’, jadi hanya sebatas anadai-andai juga belum hal yang nyata terjadi, saya hanya mengagumi saja orang baik seperti bibi” “ahahahahaaaa,,,,, dasar kamu ini sam, tidak pernah mau jujur dengan dirimu sendiri, apa salahnya jika kamu ngarep nemu syukur-syukur usaha untuk mencari? Apa kamu pikir dengan hanya berdiam diri saja akan merubah nasibmu?” ujar paman sam dengan maksud memojokkan. Mas sam menyanggah, “ada apa dengan nasibku? Apa yang harus dirubah dengan nasibku? Apakah saya tampak seperti orang yang meratapi nasib? Untuk apa nasib diratapi? Sejak kapan saya berhenti mencari? Sejak kapan saya berhenti berusaha?, kebanyakan orang berusaha dan mencari kehidupan dunia hanya pada harta, tahta, dan wanita saja, maaf ya paman setiap orang berhak menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri-sendiri, saya tidak pernah berhenti berusaha dan tidak akan pernah berhenti mencari, namun bukan harta, bukan tahta, bukan wanita yang saya cari dan saya usahakan, sampai kapanpun saya tidak akan pernah berhenti mencari letak keseimbangan hidup saya sendiri dan sampai kapanpun saya tidak akan berhenti berusaha supaya diri saya ini berguna pada keseimbangan kehidupan kecil saya sendiri, berguna tidak harus dengan hal-hal yang besar setiap orang punya kegunaan dalam hidupnya masing-masing dan justru mencari bergunanya diri dalam keseimbangan kehidupannya sendiri bagi saya lebih penting, saya tidak anti harta, saya tidak anti tahta, saya tidak anti wanita, hanya saja bukan itu tujuan hidup saya” “Iya iya iya terserah kamu saja lah sam, saya pulang dulu” sahut paman sam dan bertolak pinggal pergi. Setiap orang berhak menentukan pilihan jalan hidupnya sendiri, tapi bagaimana mungkin mas sam bisa memilih jika mas sam terbelunggu hatinya entah apa yang mengikatnya sampai mas sam tidak bisa berbuat apa-apa. Hukum dan aturan bukan alat pengekang, hukum dan aturan diciptakan untuk batasan agar manusia tidak melampaui batas. Belajar dengan hal yang sama bukan berarti harus menjadi sesuatu yang sama, karena segala sesuatu akan kembali kepada tempat yang semestinya.