obsesi atau curiga? wajarkah ?

Discussion in 'Ruang Curhat' started by dhedhek kecil, 30 August 2017.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
?

salahkah aku terus menelponnya ? aku ingin berhenti tapi tidak bisa. aku tau aku posesif, aku menjen

  1. goood

    0 vote(s)
    0.0%
  2. semangat

    0 vote(s)
    0.0%
Multiple votes are allowed.
  1. dhedhek kecil

    dhedhek kecil New Member

    dua tahun lalu aku kenal degan seorang temanku yang kemudian menjadi teman dekatku.
    kami selalu menghabiskan waktu bersama sampai hampir setiap hari kami bertemu untuk sekedar makan malam. setiap weekend kami menjelajahi tempat yang asyik dan bagus untuk mengambil foto.
    Banyak teman kami menganggap kami mempunyai hubungan khusus.
    sampai suatu hari, seseorang membeberkan isi chatnya ke semua orang.
    isi chat yang mebuat aku kaget bukan main.
    iya, dia membicarakan aku dan seseorang lagi (yang sudah lama sekali kenal dengannya sampai saling menganggap twin) dan aku yang hanya kenal kurang lebih satu tahun.
    jujur aku sedih dan kecewa, sampai menahan tangis melihat isi pesan itu.
    dia yang juga kaget, langsung menelponku, bertanya pendapatku dan akhirnya kita bertemu.
    penjelasan yang simple "itu hanya bercanda sebagaimana kita bercanda" dia menjelaskannya dengan senyum dan tawa khasnya. aku yang memilih untuk diam ikut terbawa oleh tertawanya.
    mungkin kejadian itulah awal mula semua masalah ini terjadi.
    aku mulai menaruh curiga dengannya.
    aku mulai takut dia keluar bersama temannya.
    aku mulai ingin tau keberadaannya.
    sampai akhirnya pertengkaran kita yang pertama terjadi.
    pertengkaran dimalam hari yang membuat kami terjada sepanjang malam dan berakhir dengan baik.
    akan tetapi semua masalah terus berlanjut.
    seperti tidak ada hentinya.
    iya, aku yang selalu curiga dan bertanya tanya.
    kenapa ?
    dia mulai berhenti bercerita.
    mulai berhenti mengajakku
    serta mulai menjauhiku.
    dan akhirnya aku mendapat jawaban.
    karena semua temannya yang sudah bertahun tahun bersahabat bilang " aku suka dia "
    mungkin memang begitu tapi yang aku rasa hanyalah perasaan takut dibohongi.
    masa lalu yang aku rasa penyebab ketakutanku selalu membayangiku.
    sikap posesifku yang dia katakan membuatku selalu menaruh curiga dan menganggap semua perkataanya adalah kebohongan.
    dan akhirnya semua terpecahkan saat aku bilang aku suka dengannya.
    dia bercerita banyak hal tentang bagaimana dia sekarang canggung dengan temannya yang lebih dulu ia kenal daripada aku saat mereka bersama setelah kami selalu bersama.
    tapi itu tak bertahan lama.
    kami kembali dihadapkan dengan masalah serupa, namun dengan alasannya yang berbeda.
    kali karena alasan kita terlalu sering keluar sehinggan temannya selalu menjudge kalau dia lebih mementingkan aku. serta beberapa alasan karena berboncengan yang terlalu dekat (ini karena kebiasaaku menaruh tanganku di sekitar pinggangnya serta aku yang selalu terlalu maju saat berbicara dengannya di atas motor)
    dari itu semua aku memutuskan untuk pergi menjauh.
    memutus semua kontak dengannya, namun dia mengajakku untuk kembali berteman, mengingat semua kenangan indah bersama.
    dan untuk yang ketiga kalinya aku memutuskan unutuk pergi namun dia tetap menolaknya dengan catatan ini terakhir kali aku bicara begitu.
    aku selalu berusaha menjadi seperti aku yang dulu, namun aku tak tau caranya.
    kejadian dimana chat itu tersebar selalu menjadi momok bagiku.
    sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidak berteman denganku, tapi giliran aku yang tidak mau mengakhiri pertemanan ini. kami menangis semalan bersama.
    bercerita tentang kehidupannya disini yang jauh dari orang tua.
    kami memutuskan untuk kembali seperti semula.
    tapi itu tidak berlangsung lama.
    seperti drama memang. drama remaja yang tidak ada hentinya.
    drama dimana seorang wanita tidak ingin melepaskan lelakinya.
    pada ujungnya, saat dia berada diluar kota, dia bilang untuk mengikuti aturannya, aku dilarang mengirim pesan atau menelponnya, karena dia sendiri yang akan menghubungiku saat kembali nanti.
    akupun menurutinya
    menghubungiku untuk memberi tau kapan dan dimana kami akan bicara.
    aku tau saat itu dia kembali, beberapa hari dia tidak menghubungiku, aku diam karena aku tau dia pasti sedang sibuk mengurus sebuah acara.
    tapi, aku yang emosi menyuruhnya menghapus sesuatu yang sudah aku buat untuk acara itu karena omongan tidak butuh sama sekali denganku.
    saat itu aku terus menelponnya untuk menghapusnya, namun tetap saja tidak ada kata sekalipun.
    mungkin aku sudah melanggarnya. iyaa , lagi lagi aku salah.
    pada akhirnya, hari ini aku melihat dia meng-update media sosialnya disebuah bandara dan sedang pergi keluar kota.
    aku emosi, dan melanggar semuanya.
    aku kecewa karena tidak ada sekalipun dia membalas pesannku.
    aku hanya ingin tau apakah memang tidak ada niatn sama sekali untuk ketemu aku ?
    apa semua omongannya hanya supaya aku tidak menghubunginya ?
    salahkah aku terus menelponnya ?
    aku ingin berhenti tapi tidak bisa.
    aku tau aku posesif, aku menjengkelkan,
    atau mungkin aku memang berhk diperlakukan seperti ini ?
     
  2. jagung beledug

    jagung beledug Active Member

    kanua harus sabar, move on itu butuh waktu yang penting ada niat
    wkwk
     
  3. dhedhek kecil

    dhedhek kecil New Member

    :):):)
     
  4. kuro

    kuro Active Member

    posesif ya, gimana ya, gak ada salah nya sih mencintai seseorang cuma kalo berlebih itu jadi gak baik..
    coba lah bersabar dan jangan nethink duluan
     
  5. RumputLiar

    RumputLiar Active Member

    Menyimak.
     

Share This Page