Aku selalu jatuh cinta pada angin yang mengantar aroma tubuhmu padaku. Aku selalu rindu pada berisiknya kicau burung yang menemanimu berjalan di trotoar menuju sekolah setiap pagi. Aku selalu mengembangkan senyum untuk matahari siang, karena ia membuat keringatmu berdebum deras membasahi seragam sekolah ketika kau bermain sepak bola saban jam istirahat. Aku tak pernah lelah menyoraki gol-golmu dari tempat duduk taman sambil membiarkan lolipop kaki memerahkan lidahku, warnanya serupa dengan pipiku akibat kegirangan melihatmu. Aku menyukai guru-guru yang memanggilmu untuk maju ke depan kelas, sebab dengan itu aku bisa memandang wajahmu jelas dari bangkuku. Aku menikmati ngilunya bibir hanya untuk sekedar menyapamu waktu kita berpapasan. Aku marah-marah sendiri dalam batin ketika teman-temanku menceritakan dirimu, bahwa mereka menyukaimu. Aku katakan pada semua orang bahwa aku pecinta sepi, sepi membuatku lebih khidmat mendoakanmu, sepi punya sungkan untuk mengganggu rinduku yang menggebu-gebu, sepi tahu diri untuk membiarkan air mataku jatuh sebegitu deras, menyesal pernah mengharap, namun tak pernah bisa lekas melupakanmu. Satu yang aku benci dan ingin kuusir jauh dari hidupku, “mengingat sosokmu lagi saat hatiku mulai jatuh cinta pada orang baru.” Sebab sejak pergi lebih dari sepuluh tahun lalu, kamu hilang. Google tak punya histori, tak ada jejak akanmu. Kamu cabut tanpa pamit. Berbekal salam untuk teman-teman yang kamu titipkan pada bu guru bahasa inggris, kamu menebang bunga cinta yang tumbuh subur dalam diriku, kamu tak peduli betapa sedihnya aku kala itu, kamu tak berbelas kasih pada anak perempuan yang raungannya disekap bantal karena terlalu berduka dan memilukan untuk didengar. Tangisannya tak mengada-ada, ia hanya menuruti gemuruh dada dan perintah otaknya untuk mengeluarkan luka dalam bentuk air mata. Ia kehilangan, sangat kehilangan. Berjuta-juta jam setelah itu, kamu tinggal dan belajar entah dimana. Aku tak henti mencari kabarmu dari kota baru tempatku tinggal, ya, aku pindah hanya beberapa bulan setelah kamu pergi. Kamu dan aku tumbuh besar dengan cerita masing-masing. Dengan teman yang berbeda, dengan lingkungan yang sama sekali tak sama, dan jelas, dengan cinta sendiri-sendiri. Kamu mungkin dengan mudahnya berganti tambatan hati. Tapi kesalahanku selama bertahun-tahun yang membiarkanmu menetap di dalam benakku, membuatku terlalu sulit untuk menerima cinta baru. Aku tak kuasa berlaku munafik, karena kamu yang telah bersanding perempuan lain benar-benar membawa lari hatiku yang hanya satu. Bukannya aku tak tahu diri untuk mundur, hanya aku tak kuasa. Pikirmu selama ini aku tak berusaha? Aku tak bisa. Di saat dunia sunyi dan jariku menautkan huruf-huruf menjadi cerita seperti sekarang, aku kembali padamu. Kembali mengingatmu. Aku tak bisa, sungguh. Lalu aku harus apa? Tolong temui aku dalam mimpi malam ini, kumohon ajari cara agar aku mampu memusnahkan namamu dari ingatanku.
wow.... kisah yang indah..... mbah google mungkin sedang kehabisan menyan untuk tau keberadaan doi.... kalau hanya ingin menemui doi hanya lewat mimpi, jawabannya iya... yang insyaAllah hanya untuk malam ini... jika memang itu menjadi hal yang mungkin menyenangkanmu. tapi perlu disadari juga bagaimanapun kehidupanmu harus tetap jalan meski ada atau tidak adanya dia. jangan sampai kita memaksakan kehadiran secara wujud mtriil/jasadnya seseorang... karena jika kita paksakan yang ada kita hanya terjebak dalam kehidupan angan-angan kita. boleh kita mempunyai cinta terhadap sesiapa, namun secara lahir kita sepantasnya menyesuaikan situasi dan kondisinya.... semoga malam ini jadi titik balik untukmu mengerti akan kehadiran cinta itu sendiri...
noooo itu tadi gue abis nonton film terus kebawa baper hahahah. iyaya, desperate banget kedengarannya lol thankyou for replying meeee, have a good night