abaikan ini * gasp.

Discussion in 'Ruang Curhat' started by Alam Lukman, 14 September 2015.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. Alam Lukman

    Alam Lukman Well-Known Member

    terkadang mudah buat saya mendapatkan pengganti untuk apapun, tapi perannya tidak bisa tergantikan. jika sejak awal tak ada yang saya miliki di bumi ini, maka seharusnya saya tidak merasakan kehilangan apapun. tapi perasaan tidak bisa dibohongi dengan filosofis. jelas rasanya tidak akan sama. kecintaan saya pada dunia ini membuat saya lupa pada nilai eksistensinya. tentu saja tak ada yang abadi. dan terkadang saya baru bisa merasakan bahwa hal itu berarti ketika sesuatu itu pergi. apa itu kekekalan? jika menurutku waktu harus terhenti dan medan gaya tak berfungsi. diantara segala reaksi kimia dalam hati, atau berada diantara ruang kosmis yang sunyi. dalam kapasitasku sebagai manusia biasa aku harus mengakui bahwa aku kehilangan. 10995494_601967403261831_1051575195866195414_n.jpg
     
  2. karra

    karra Well-Known Member

  3. Alam Lukman

    Alam Lukman Well-Known Member

  4. karra

    karra Well-Known Member

  5. Alam Lukman

    Alam Lukman Well-Known Member

  6. Alam Lukman

    Alam Lukman Well-Known Member

    (Abaikan ini juga)
    Mahasystem.
    aku terlalu lama terikat oleh imaji yang nyata.
    mencipta elegi dari bisikan dan gaung dalam jerit hati.
    aku adalah debu terkecil diantara dimensi sekaligus bagian dari penciptaan semesta itu sendiri.
    aku adalah sel. aku adalah rambutku. aku adalah persona yang terpancar dari energi tak kasat mata.
    dalam distorsi yang memekik diantara jemari, aku menari dalam ironi eksistensi.
    akulah sang pelukis, akulah sang arsitek yang menciptakan firdaus dan eden dalam keindahan akal.
    aku adalah kamu, dia, kalian dan mereka. aku ada dimana-mana. aku adalah makna dari keberadaan. akulah mahasystem.
    aku merasakan keberadaan atas mahahakekat dan kecintaanku pada dunia yang fana telah membutakan.
    aku adalah senangmu, sedihmu, marahmu, akulah perasaan. akulah empatimu, aku adalah jiwa yang terjebak dalam tubuh yang tak abadi.
    akulah logika yang menjadi permainan disaat masuk akal bukanlah hal yang normal.
    bukanlah Sang Satu yang ada dalam diriku, namun akulah yang berada dalam kebesaranNya.
     

Share This Page