Janda Muda

Discussion in 'Ruang Curhat' started by Rayn Annabel, 15 March 2017.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. Rayn Annabel

    Rayn Annabel New Member

    Apa yg pertama kali terlintas dipikiranmu saat kamu mendengar kata "janda muda" ?
    Aku yakin pasti banyak yg berpikir negatif tentang janda muda.
    Bukan hal yg mudah menjalani hidup sebagai seorang janda apalagi kalau janda muda.
    Bukan keinginan kami untuk menjadi seperti itu. Setiap orang pasti punya masalah. Tinggal bagaimana cara pribadi masing-masing untuk mengatasinya.
    Aku sebagai seorang janda muda seringkali di"bully" oleh masyarakat sekitar.
    Banyak yg menilai negatif tanpa mengetahui apa yg sebenarnya terjadi.
    Sebenarnya di lubuk hatiku yg terdalam aku ngga mau ini semua terjadi. Aku harus kehilangan harga diriku sebagai seorang wanita, kehilangan seorang anak karena masalah hak asuh, mengecewakan orang tua karena gagal berumah tangga dan merasa bahwa aku sudah tidak bisa mempercayai bahkan mencintai lelaki lain karena masih merasa trauma.
    Seringkali aku "berkelahi" dengan pikiranku sendiri karena perbuatan bodohku di masa lalu. Aku selalu ingin memutar kembali waktu untuk memperbaiki kesalahan2 yg telah aku perbuat. Ejekan2 masyarakat sekitar selalu membuatku depresi bahkan aku hampir kehilangan nyawaku karena kebodohanku sendiri. Memang penyesalan selalu datang di akhir. Yg bisa aku lakukan hanyalah bersabar dan aku harus bisa konsekuen walaupun ini semua terasa sakit.
    2 tahun setelah berpisah dgn mantan suami aku mencoba membuka hatiku untuk yg lain. Tapi yg kudapat hanyalah sebuah kekecewaan yg besar karena aku hanya dipermainkan dan dimanfaatkan. Aku kembali depresi hingga pada akhirnya aku membuka pikiranku untuk tidak terpuruk di dalam situasi ini. Aku mencoba untuk bangkit dan tidak melakukan hal2 yg bodoh lagi, walaupun terkadang aku masih "berkelahi" dengan pikiranku sendiri.
    Semoga pengalamanku bisa menjadi contoh dan pelajaran bagi orang2 disekitarku.
     
    Fathiya likes this.
  2. hahachi

    hahachi Active Member

    Saya rasa gak ada masalah. Yang jadi masalah paling penyebabnya, itu masih relatif belum tentu jadi pihak yang bersalah tergantung sikonnya. Terkadang memang sangat tidak dan jangan sampai bercerai tapi terkadang juga kondisi harus terpaksa bercerai kalau melihat sebab akibatnya.
     
    Fathiya likes this.
  3. Rizky Ahmad F

    Rizky Ahmad F New Member

    LEBIH MULIA MESKI MENJANDA
    Status janda mengundang cibiran. Namun, para janda dalam sejarah Islam justru adalah wanita-wanita terhormat dan menjadi teladan dengan kemandiriannya

    Jadi janda? Status yang satu ini mungkin bagi sebagian besar perempuan terdengar sangat mengerikan. Betapa tidak, di masyarakat Timur yang sebagian besar masih menganggap bahwa perkawinan yang sempurna adalah bersatunya sepasang suami istri, status janda adalah kondisi yang sebisa mungkin dihindari, namun sebagai manusia perjalanan hidup tetap harus dijalani meski ditinggal suami karena meninggal dunia atau bercerai yang bisa terjadi pada siapa saja.

    Menyandang status janda bagi perempuan di negeri ini berarti menanggung beban cibiran, anggapan miring, dan kesendirian memikul beban materi maupun psikis. Mayoritas, pengakuan mereka yang hidup menjanda adalah sulitnya mendapatkan tempat yang layak dalam masyarakat. Padahal, status sebagai janda tak berbeda dengan status gadis, perjaka, istri, suami, atau duda sekalipun.

    Walaupun status menjanda tersebut disandang akibat wafatnya sang suami, perlakuan masyarakat terhadap janda tetap tak senormal terhadap orang dengan status lainnya. Apalagi bila status menjanda didapatkan karena perceraian, tudingan dan cibiran akan lebih deras menghujam dibandingkan pada pria yang menduda. Terlebih bila sang janda masih muda, cantik, cerdas, dan pandai bergaul.

    1. Tegarkan Langkah
    Sejatinya, janda juga seorang manusia yang tak bisa membuat takdir atas diri mereka sendiri. Bila memang biduk rumah tangga tak bisa lagi dikayuh karena hal sangat prinsipil (terutama yang menyangkut akidah), haruskah tetap bertahan dalam status istri yang tersiksa? Bukankah jalan perceraian masih halal, meski Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) memang membencinya.

    Di lain kasus, dapatkah seseorang menahan laju malaikat maut yang menjemput ruh pasangan hidup? Sungguh manusia tak pernah berkuasa untuk menentukan takdirnya sendiri. Lantas, apakah kehidupan mesti berwarna suram sepanjang sisa hidup seorang manusia berstatus janda?

    Ini tentu tak adil. Karena, dalam Islam, perempuan-perempuan dengan status janda pun mendapatkan perlakuan yang terhormat. Bila seorang perempuan menjanda akibat suami yang syahid di medan perang, apakah layak janda syuhada ini menjadi sasaran tudingan dan cibiran?

    Kita hidup di negeri yang membutuhkan lebih banyak energi untuk tetap berdiri dengan identitas sebagai seorang Muslimah. Di negeri ini, butuh pembuktian lebih keras untuk bisa menunjukkan kemandirian dan ketangguhan sebagai Muslimah. Karena itu, bila status menjanda adalah sebuah takdir yang memang harus dijalani, jemputlah dengan segenap kekuatan jiwa dan raga serta tetaplah bersyukur. Jangan sampai bola salju yang bernama “janda” itu justru lebih dahulu menghantam, hingga kita lumat di dalamnya dan membuat anggapan miring masyarakat semakin mendapat pembenaran.

    2. Terhormat Meski Sendiri
    Mungkin, untuk yang kesekian kali, kita harus meneladani pribadi Ibunda Khadijah RA. Semasa jahiliyah, dimana perempuan Arab adalah jenis manusia yang direndahkan, beliau mampu berdiri dengan agung. Menjadi wanita terhormat yang dikagumi, meski beliau menyandang status janda. Tak ada anggapan miring yang hinggap pada sosoknya, karena ia adalah perempuan yang sangat rapat menjaga diri. Ia pun tak menjadi orang yang mengemis belas kasihan pada orang lain, karena ia mampu berdiri tegak di atas kedua kakinya. Ketika ia memutuskan untuk kembali menikah pun, ia berhasil menjalani kehidupan yang lebih baik bersama Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (SAW), ketimbang dengan dua suami terdahulunya.

    Ibunda Khadijah memang luar biasa. Namun, Ibunda Khadijah juga manusia biasa yang langkahnya dapat dijejak kembali oleh Muslimah di masa sekarang. Artinya, bila takdir berbicara bahwa kita harus menjanda, hiduplah menjadi seorang janda layaknya Ibunda Khadijah. Yakni, janda yang tegar dan kuat, tak lellah untuk bejuang di jalanNYA untuk menjalani kehidupan, janda yang menjadikan warna hidupnya bahkan lebih baik dan lebih mulia meski sendiri.

    Menjadi janda yang terhormat memang tak mudah. Perjalanan untuk menjadi sosok yang demikian juga bukan masa yang ringan. Butuh kesabaran dan tekad yang kuat untuk tetap berorientasi pada “hari esok yang lebih baik”. Sebab, masyarakat kita terbiasa menyaksikan seorang janda yang tenggelam dalam kesedihan pasca kematian suaminya atau pasca bercerai, ketimbang yang langsung bergerak mengusahakan yang terbaik, berjuang, bangkit dengan lebih kuat dan tegar untuk kembali mejalani hidup yang lebih baik untuk kehidupan dirinya dan anak-anaknya.

    Namun, yakinlah bahwa Allah SWT senantiasa mengawasi langkah hamba-Nya dengan penuh cinta. Bersemangatlah dan berpegang teguhlah pada cita bahwa “hari esok lebih baik”.

    “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Rabb kami ialah Allah’, kemudian mereka bersikap istikamah, maka akan turun malaikat kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.’”(Fushshilat [41]: 30)

    Lihatlah betapa tegarnya sosok Cut Nyak Dhien yang justru mengokang senjata ketika nyawa suaminya terengggut di medan perang. Di usianya yang masih 28 tahun, beliau bahkan semakin garang melancarkan perlawanan terhadap Belanda. Beliau yakin, perpisahan di dunia ini hanyalah sementara karena orang-orang yang syahid di jalan Allah SWT kelak akan berkumpul kembali dengan orang-orang yang dicintainya di surga.

    3. Lebih Baik dari Sebelumnya
    Namun demikian, bukan berarti seorang janda sebaiknya memilih untuk tetap sendiri setelah suaminya berpulang atau bercerai. Karena, menikah lagipun pilihan yang baik untuk seorang janda. Akan tetapi, bila seorang janda hendak menikah lagi, alangkah lebih baik jika terlebih dahulu memperhatikan langkah yang pernah ditempuh oleh Ummu Salamah.

    Suaminya, Abu Salamah sebelum mangkat, meminta istrinya untuk menikah lagi. Abu Salamah pun berdoa kepada Allah SWT untuk mengaruniakan seorang laki-laki yang lebih baik darinya dan tidak menyengsarakan serta menyakiti istrinya. Berbekal permohonan suaminya pada Allah SWT itulah, Ummu Salamah kemudian menolak pinangan Abu Bakar RA dan Umar bin Khaththab RA. Rasulullah SAW yang sangat menghormati mendiang Abu Salamah pun merasa prihatin atas keadaan Ummu Salamah yang kini sendirian menanggung beban kehidupan. Rasulullah SAW pun akhirnya meminang Ummu Salamah. Maka siapakah manusia yang lebih baik dari Rasulullah SAW?

    Belajar dari Ummu Salamah, alangkah indah bila pernikahan seorang janda Muslimah lebih baik dari pernikahan sebelumnya. Hal ini sangat penting karena seorang janda pasti telah memiliki pengalaman hidup bersama suaminya yang terdahulu. Bila pernikahan selanjutnya tidak lebih baik dibanding pernikahan yang sebelumnya, pasti akan banyak penyesalan yang menjelma.

    Karena itu, seorang janda Muslimah sebaiknya lebih berhati-hati dalam memilih calon suami yang akan mendampinginya. Ibunda Khadijah pun mengajarkan yang demikan. Beliau sangat selektif dalam memilih pasangan hidupnya. Hampir seluruh pemuka bangsa Arab menawarkan pinangan, tetapi beliau tetap diam dalam keagungannya.

    Bersabarlah. Tetaplah istikamah dalam kebaikan yang senantiasa kita hadirkan dalam setiap langkah. Sebab, Islam telah mengajarkan melalui teladan Ibunda Khadijah, Ummu Salamah, dan Cut Nyak Dhien bahwa menikah kembali sama sekali bukan karena alasan sepele. Melainkan karena alasan-alasan besar untuk mewujudkan cita-cita yang besar pula.
     
    Fathiya and Lee89 like this.
  4. Fathiya

    Fathiya Well-Known Member

    saya terharu membacanya,,,

    kamu tidak sendirian,,, apa yg kamu tulis sama seperti yg saya rasakan,,,
    hanya saja saya tidak muda lagi,,, tp sudh kepala 3 dan pengasuhan anak ada pada saya,,,
    tetap tegar, tunjukin kita lebih baik dari orang2 yng sukanya mencibir itu,,,
     
  5. Salim

    Salim Active Member

    Yg terpenting jika sudah menjanda ambillah pelajaran dari kegagalan masa lalu. Pria yg serius dengan anda, tidak akan lama lama mengajak anda menjalin hubungan pra-nikah. Karena dia pasti mengetahui hukumnya. Oleh sebab itu supaya anda tidak kecewa lagi kedepannya, jangan membuka hati kecuali kepada seseorang yg bersedia langsung melamar anda. Dan selektiflah dalam memilih pria, terutama dari segi agama, akhlak, nasab sekaligus background keluarga & pekerjaannya. Semoga anda beruntung.
     
    Fathiya likes this.
  6. hahachi

    hahachi Active Member

    Kepala 3 ya masih muda mbak... :oops:
     
  7. Fathiya

    Fathiya Well-Known Member

    masa si,, ?
    sebenrny saya juga merasa saya ini sekitr 28an lah
    hahaha,,,
     
  8. hahachi

    hahachi Active Member

    Yaiyalah kepala 3 dibedakin doank masih bisa keliatan kece, beda kelo dah kepala 5 perlu dateng ke mbah kandam... Ckakakakak...

    Wah kayaknya buka jasa biro jodoh cocok nieh... Ckakakakakakakak:D
     
  9. Fathiya

    Fathiya Well-Known Member

    ?????

    Lo mau jd biro jodoh,,, pesen 1 ya,, COD
     
  10. hahachi

    hahachi Active Member

    Lah saya kasih beneran lhoh... Mau yang seumuran? Lebih tua? Lebih muda? Atau yang lebih gila?

    Ckakakakakak.... :D Pokoknya dateng tak dijemput pulang tak dianter dah.
     
  11. Fathiya

    Fathiya Well-Known Member

    umur bisa diatur asal seperti kawan2 diatas,,,
    pria yg bertanggung jawab, bgm agamanya, akhlaknya, pekerjaannya,,,, xixixi,,,
     
  12. hahachi

    hahachi Active Member


    Owh hanya itu... Mungkin bisa fix minggu depan... Ckakakakaka.... Tar saya jalain dulu. Jaluku gede banget biasanya nangkep banyak... Xixixixi
     
  13. hahachi

    hahachi Active Member

    Oops jala maksudnya. Tar salah nangkep lagi :D
     
    Fathiya likes this.
  14. Winny

    Winny Member

    Tidak semua janda buruk, jika menyesali masa lalu adl hal baik Krn ada itikad utk lebih baik, yg penting jadikan pengalaman sbg mutiara dan ingat selalu pesan& arahan org tua (sebagai tuntutan)
    Semakin dekatkan pd Tuhan Krn Dia adl penyembuh yg paling Mujarab dan berkumpullah dgn org2 baik
     
    Fathiya likes this.
  15. faafa

    faafa Member

    Wake up mbak be strong biarlah mereka bicara apapun tentang km karna mereka bicara apa yang mereka lihat bukan yang mereka tahu
     
    Fathiya likes this.

Share This Page