Aku cewek yang tamat sma 2 tahun yang lalu dan tamat disaat orangtuaku tengah kesulitan ekonomi. Aku sangat ingin kuliah di luar kota yang( ibukota provinsi karna kota tempat tinggalku kota kecil ) masih 1 provinsi dengan kota kelahiranku tapi ditentang oleh kedua orangtuaku dengan berbagai alasan. Mereka mengatakan berbahaya jika anak cewek dilepas kuliah di luar kota tapi pada kenyataannya banyak cewek2 di kota tempat tinggalku justru SANGAT SANGAT diperbolehkan kuliah bahkan menganggur di kota yg aku inginkan untuk kuliah tsb ( aku beri saja kota yg aku inginkan dgn sebutan kota A dan kota tinggalku kota B ) bahkan sepupu ku saja umurnya beberapa tahun dibawahku dan sangat manja bahkan belum mandiri dilepas oleh orangtuanya menempuh pendidikan di kota A. Bahkan jauh jauh hari sebelum aku menginjakkan kaki di kelas 12 sma , aku sudah sering shalat tahajjud , berdoa yg lebih dan berusaha cari cari informasi ttg perkuliahan namun semuanya sia sia. Orangtuaku justru menginginkan ku kuliah di kota B dan sangat bersikeras untuk itu. Aku sudah mengatakan segala macam pendapatku bahkan aku sengaja mengganggu jam tidur malam guruku hanya minta pendapat mengenai tempat kuliah yg diinginkan orangtuaku dan guruku mengatakan kalau aku harua mengikuti kata hatiku karna yg akan menjalani perkuliahan tsb aku dan ini menyangkut dgn masa depanku. Namun semuanya ditolak mentah mentah oleh orangtuaku , bahkan mereka menuduhku akan melakukan hal yang tak terpuji jika aku berkuliah di kota A , sumpah demi allah dan alqur'an aku bahkan tak pernah memikirkan apa yang dituduhkan oleh orangtuaku. Namun aku tiba tiba sadar bahwa beginilah keadaan orangtuaku , kekurangan. Akhirnya aku mengalah dengan tidak kuliah pada tahun pertama setelah kelulusanku. Kecewa? Pasti!! Tapi aku lakukan ini bukan karna aku egois ingin tetap berkuliah dsana , tapi aku mengingat keadaan ekonomi keluargaku yg bahkan kami dulunya hampir tiap 2 kali seminggu makan ayam kini bahkan kami makan ayam hanya 1 kali tiap 4 bulan karna orangtuaku yg terlilit hutang. Aku ingat keadaan ekonomi mereka dan aku gak mau jadi beban bagi mereka aku ingin meringankan sedikit beban mereka dgn cara mengorbankan rasa kecewaku yg tidak dapat melanjutkan kuliah. Omongan remeh orang orang bahkan sahabat baikku sendiri aku terima dgn lapang dada ketika mereka meremehkan ku yg tidak dapat melanjutkan kuliah , aku menerimanya dgn lapang dada walau rasa nyeri di hatiku sungguh tak berkesudahan. Kedua abangku jg memilih mundur dari kuliah yg mereka jalani mendekati semester akhir , kekecewaan orangtuaku pada mereka sedikit berimbas kepadaku. Dulu ketika kedua abangku hendak melanjutkan kuliah ditempat kota A , dan dengan bangganya ayahku menyetujuinya dgn mengatakan kalo mereka harus kuliah di luar kota agar pikiran mereka terbuka. Rupanya selama ini mereka hanya bermain2 dgn kuliahnya dan orangtuaku merasa kecewa dan ayahku melampiaskan kemarahannya padaku. Aku diam karna aku tahu melawan perkataan orangtua itu sebuah dosa besar. Tapi selama setahun kemudian ayahku selalu saja menyakiti hatiku dengan mengatakan kata kata buruk nya padaku bahkan dia juga menganggap aku sebagai penutup pintu rezeki mereka karena sering melawan perkataan orangtuaku. Hancur rasanya ketika ayahku mengatakan itu padakau disaat aku menahan gejolak ingin kuliah dengan baik tanpa membebani orangtuaku yang harus aku tahan. Tapi aku diam dan menerimanya. Sedikit rahasia , sedari aku smp aku menyadari bahwa ayahku bermain mata dengan wanita lain bahkan mungkin saja telah memiliki anak dengan perempuan itu. Bukankah pintu rezeki sebuah keluarga tertutup jika sang suami mengkhianati kesetiaan istrinya? ( maafkan aku jika aku sdikit salah dgn hadist diatas tetapi intinya seperti itu ) namun aku diam saja.Ayah ku juga akhir akhir ini sering menyakiti hati ibuku bahkan pernah mencarut nya ketika ibuku menasehati ayahku hingga ibuku sering menangis. Bahkan ayah dari ibuku tak pernah menyakiti hati ibuku. Aku diam tapi aku menerima dan mengingatnya dgn rasa sakit. Hingga hari ini ayahku selalu berkata kasar padaku dan aku sudah tidak tahan lagi dan melawan perkataanya dgn mengatakan bahwa aku sudah mengerjakan semua tugas rumah dan sedang beristirahat. Namun dia memakiku dan menyakiiti hatiku dgn perkataannya dan aku benar benar tidak tahan dan mengatakan kepada allah bahwa aku tidak akan pernah memaakan perbuatan ayahku. Ada perasaan lega dan juga bersalah dgn sumpahku tsb. Tapi aku benar benar lelah dengan ini semua dan aku sering sakit kepala jantungku berdenyut kencang setelah dicacimaki oleh ayahku. Tolong sarannya