Salah Jurusan, Salah Masa Depan, Kesepian

Discussion in 'Ruang Curhat' started by Aurora_aurora, 16 June 2017.

Silakan gabung jadi member agar bisa posting
  1. Aurora_aurora

    Aurora_aurora New Member

    Hai perkenalkan namaku aurora. Sebenarnya aku nulis ini karena unek-unekku yang bener-bener tak terbendung. Aku kuliah di jurusan yang sebenarnya bukan keinginanku. Dulu, saat aku memilih jurusan yang kuinginkan, ibuku mengatakan hal yang pedas "Ngapain kamu sekolah di tempat yang bagus kalau cuma kuliah di jurusan itu. Udah kamu kuliah di jurusan ini aja." Titik tanpa koma. Saat itu, aku mengiyakan saja karena aku gak ingin ada perdebatan. Aku lulus ujian tertulis di salah satu PTN. Semua memujiku. Semua mengatakan wah hebat, wah , wah , wah. Dari aku SD sampai SMA aku disekolahkan di tempat yang favorit. Semua memujiku. Semua memandangku dengan pandangan memuji. Papa dan mamaku menjadi bangga. Tapi kebanggaan itulah berujung petaka bagiku. Berujung kesombongan

    SAAT JATUH

    Saat aku SMA aku dibully habis-habisan, aku gak pernah bilang kepada mamaku. Takut mamaku kecewa dan menyalahkanku. Aku gak pernah berbuat jahat kepada mereka, aku selalu diam. Tapi mereka menghujatku. Mereka mengolok-olok aku. Mereka berbuat demikian seakan itu adalah sebuah kesenangan. Aku bener-bener marah, tapi aku sendirian. Aku gak mungkin melawan mereka yang jumlahnya semakin banyak. Bahkan jumlahnya mencapai 1 angkatan. Herannya aku sama sekali tidak mengenal mereka. Tidak pernah berbincang dengan mereka. Tapi mereka, dengan gampangnya membully aku habis-habisan. Tidak hanya masalah sekolah tapi aku juga berasal dari keluarga yang memiliki banyak masalah. Di saat aku butuh suntikan semangat untuk menjalani sekolah dari mamaku, mamaku juga terdapat masalah. Maka aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdiam diri di kamar. Menghujat Tuhan. Berdoa kenapa semua hal ini menimpa padaku? Apa salahku? AKu tidak pernah menjahati mereka tetapi mereka berbuat demikian. AKu menjalani 3 tahun sebagai sampah.

    Masa Kuliah

    Saat menjalani masa kuliah aku seperti zombie hidup. Datang, absen, dengerin tapi ga masuk di otak, pulang. Kerjain tugas pun ngasal-ngasalan. Karena, aku gak pernah menikmatinya. Aku menikmati perkuliahan tersebut, ketika aku bertemu dengan dosen yang enak. Selain itu aku gak pernah menikmati perkuliahan tersebut. Buku kuliah tebal-tebal tapi hanya kubaca 4 kali paling maksimal. Nilai IP? Hahaha.. 2 kali aku mendapatkan 2,9. Aku pernah menjalani 3 tahun berturut-turut mengulang mata kuliah. Bahkan aku pernah mengulang mata kuliah yang sama sampai 3 x. Aku pernah mendapatkan nilai D dan E di mata kuliah tertentu. Ya... parah bukan? Sangat!!! Ketika aku ditanya IPK aku selalu malu. Bahkan mamaku tanpa segan-segan mengolokku pemalas di depan orang yang menanyakan IPK ku. Aku malu, sedih, kecewa. Aku malu karena diolok, aku sedih karena yang ngolok aku adalah orang yang kusayangi yakni ibuku sendiri, justru itulah yang membuat aku kecewa dan benci, karena aku masuk ke akuntansi karena aku menuruti kehendak mama. Dari situ timbul kebencian dengan dunia perkuliahanku. Aku yang awalnya sudah agak malas, menjadi sangat malas untuk kuliah. Aku selalu membolos. Jarang belajar. Sering keluar. Ngerjain tugas seadanya. Selalu tidur. Ga ada rasa bersalah. Ga ada rasa penyesalan karena ini semua ga ada gunanya untukku kelak. Aku mulai memberontak dan menjadi marah-marah di rumah kalau kehendakku ga diturutin. Aku sering tengkar hebat dengan mamaku.

    Cita-cita?
    Ketika ditanya aku mau menjadi apa, aku jawab ngasal, aku ingin menjadi seorang konsultan keuangan atau manager keuangan. Aku menganggap itu sebuah yang mustahil itu seorang aku. Selain itu, aku menyebutkan tanoa ada perasaan ambisius seperti aku menyebutkan cita-cita sebagai dokter atau psikolog. Saat magang, aku tidak bisa menjawab proses auditing. Padahal itu adalah materi dasar. Aku malu. Jujur, aku adalah anak yang memiliki kemampuan. Tapi aku merasa aku gagal. 2 minggu masa magang bagaikan neraka. AKu sudah muak bahkan aku muak dengan angka-angka yang harus kucari. Aku lemah di banyak hal. Kuakui itu. Saat semester 7 aku mengakui 100% secara sadar kalau aku salah jurusan. Tapi itu sudah terlambat untuk mengubah. Aku ingin bekerja sebagai HRD. Menolong orang dan membantu menyelesaikan masalah teman, itu adalah hal yang kusenangi. Sekarang aku sudah tidak bisa menggapai cita-cita itu.

    Hancurnya Cita-Cita yang Lama

    Dulu saat aku kecil aku bercita-cita sebagai dokter gigi yang bisa menolong banyak orang. Aku yang waktu kecil percaya akan cita-citaku mulai belajar dengan giat. Nilaiku saat itu selalu 7-10. Hanya kadang-kadang aku mendapatkan nilai 6. Itupun aku merasa sangat jelek. Saat aku kelas 2 SMP, aku sangat ingat, mama nanya ke aku, " kamu mau jadi apa?" aku menjawab jadi dokter. Mama membalas, " Maaf mama ga bisa menuhin cita-cita kamu, karena ga ada uang. gapapa kan?" AKu sedih, karena aku ga bisa jadi dokter. Kala itu aku merasa tidak apa-apa karena aku tahu kondisi ekonomi rumah seperti apa. Maka, aku memutuskan untuk berhenti bermimpi menjadi dokter. AKu sudah tidak rajin seperti dahulu. AKu belajar ala kadarnya. Apalagi ditambah dengan masalah sekolah. AKu menjadi ga semangaat untuk menjalani hidup. Aku benar-benar hampa. Kemudian aku menjadi lebih bersemangat kembali saat aku menemukan mimpi yang baru. Saat itu aku kelas 3 SMA. AKu mengenal dunia psikologi dari kakak kosku. AKu merasa, aku bisa menolong orang dengan masuk psikologi. Lagi-lagi mimpiku kandas. Mamaku tidak menyutujuiku dan berkata "Ngapain kamu sekolah di tempat elite, kalo cuma masuk ke psikologi," Jujur itu menyakitkan. Sangat. Kemudian mamaku menambahkan, "Sudah kamu masuk akuntansi saja! Nilai akuntansimu bagus kan?" Dengan itulah, aku masuk di jurusan yang tidak kuinginkan sama sekali. AKu hanya bisa menangis dan pasrah

    Tahap akhir, SKRIPSI tahapan melelahkan dan penuh kebohongan

    Tahapan ini benar-benar penuh dengan dosa. Kenapa? Karena aku banyak membohongi orang, yakni orang tuaku, teman, sahabat, orang-orang yang mengenal orang tuaku. Aku menyebut aku lulus, padahal aku belum lulus. Aku bahkan menggadaikan kalung emas untuk membayar SPP selama 2 semester. Selama semester 8 dan 9, aku melalui semuanya dengan rasa takut, ragu, dan lelah. Takut ketauan. Ragu dengan masa depan karena aku gak menguasai materi. Lelah dengan menjalani hidup dengan standar dan tututan mamaku. Mamaku sering menyodoriku pengeluaran bulan ini, dan menodong pengeluaran untukku yang paling banyak. Aku sering berpikir, aku jarang minta ke mama. Kenapa selalu aku? Padahal aku jarang minta dibeliin ini itu. Aku cuma minta dibelikan buku kuliah. Paling aku minta dibelikan jajan, itupun kisaran 3000-5000 rupiah. Bahkan lebih sering gak punya uang karena aku harus membeli obat rutin karena penyakitku. Saat aku mengeluh saat semester 7, mamaku tetap memarahiku. Dan dengan rasa terpaksa mau membantuku untuk biaya obatku. Tapi sekarang aku sudah stop minta uang mama untuk beli obat, karena ga mau ngerepotin. Parahnya, dan hal yang ga bisa aku terima adalah saat aku semester 8 mamaku tiba-tiba bilang, "Nanti kalau kamu punya gaji yang besar kita cicil mobil ya?" Padahal itu aku belum lulus. Jujur aku risih digitukan. Emang sih itu harapan orang tua, tapi bagiku itu ketinggian. Karena belum tentu aku benar-benar mendapatkan kerjaan dari perusahaan yang bonafid. Tapi sudah diberikan tuntutan demikian. Jujur aku semakin malas ngerjain skripsiku. Dari tekanan keuangan dan tuntutan mamaku, ketakutan dan kelelahan ku menjadi bertambah. Sampai kadang-kadang aku bertanya, "Kapan aku bisa bebas? Kapan aku bisa menjalani hidupku sesuai keinginanku? Kapan aku bisa menikmati hidup? Kapan aku bisa mengerjakan hal yang kusukai?" Aku muak. Aku muak dengan skripsi dan aku muak dengan perkuliahan akuntansi ini.
     
  2. diaz

    diaz Member

    kckckckckc totallY complicated...harus di dilurusin satu2
     
  3. Aurora_aurora

    Aurora_aurora New Member

    iya sih.. jalan satu-satunya harus kelarin skripsi dahulu. Habis itu, aku baru bisa menjalani hidup yang aku mau.
    Tanpa ada suruhan harus nurut kata mama ini itu. Jujur kadang melelahkan menurut tapi sebenarnya aku gak menginginkan hal itu.
     
  4. Aurora_aurora

    Aurora_aurora New Member

    Kadang kalo gak nurut itu dimarahin habis-habisan, makanya dengan terpaksa aku menurut
     
  5. diaz

    diaz Member

    tpi gk ada salahnya kok menuruti kemauan orang tua,walaupun berbanding terbalik dgn pmikiran qt..dinikmati saja, semakin kmu gk suka ...smakin bsar pula kebencianmu,
     
  6. heningayu

    heningayu New Member

    just go away
     
  7. Lynn

    Lynn Member

    Paling ga suka ama tingkah ortu model gini. Nuntut ini nuntut itu! Kewajiban ortu memberikan semua kebahagian u/ anak nya, sampai si anak sudah sukses, barulah ortu bs minta balas jasa.
    Semua manusia sama saja, mau posisi apapun mereka ttp makhluk egois.

    #sedikit masukan, km kuliah jurusan apapun ga menjadi patokan bahwa km cuman bs kerja diseputar bidang itu. Lepas pendidikan, cari pekerjaan yg kamu kehendaki, dng begitu km bisa langsung praktek sambil belajar. Jgn nyerah bro apa sist neh?! Semua org jg punya problem nya, kuat kan mental mu. "Selamat datang kedunia org dewasa yg penuh kerumitan" :cool:
     
  8. Aurora_aurora

    Aurora_aurora New Member

    Yah.. mungkin harus kuatin mental dengan segala tuntuntan itu sih. Btw, makasih banget masukkannya. Btw sist aku hehehe... salam kenal..
     
  9. Aurora_aurora

    Aurora_aurora New Member

    Iya sih kk.. akan aku coba menikmati .. makasih buat masukannya ..
     
  10. Ringga17

    Ringga17 New Member

    Keadaan gua hampir sama dengan lu bedanya : ibu gua udh meninggal, kuliahan gua gk punya prospect sama sekali nilai berantakan, ekonomi dan keluarga sangat rumit (makan aja sehari sekali) kaka gua gk ada yg bener. Pergaulan, dimana mana dicemooh dan dibully,Tapi gua streess? Ya. Menyerah? Tidak, siapa yg mau nyerah. Semua orang punya penderitaan masing-masing, gua coba membandingkan penderitaan dan nikmat yg dialami perbandinganya 1:100. Allah maha baik. Yg penting usaha dan doa emg kedengeranya bullshit *doa dan usaha* tapi cuma itu caranya.
     
  11. Kelincinya Mocca

    Kelincinya Mocca New Member

    Hal pertama yang mau gw ungkapin..
    Teruslah berjuang menghadapi perjalanan hidup kamu saat ini,, SEMANGAT UNTUK SKRIPSINYA !!!

    Tuhan tidak akan memberikan ujian ke pada manusia melebihi kemampuannya. Kamu pasti mampu melewati ujian dari Tuhan ini.

    Memang beban hidup yang berat menurut gue ketika kita sudah masuk dunia perkuliahan..
    Gue juga sama ngerasa kurang minat di jurusan kuliah gue sekarang.. Mungkin menurut lo semua ini sudah telat, tapi gue doakan secuil apapun masalah jika lo mau meluruskannya satu-persatu semua akan ada jalan keluarnya.
    Gue gak maksa,, tapi gue harap lo harus terus berusaha dan berdoa
    Saran gue,, coba Lo ungkapin semua kepedihan Lo selama ini apapun itu mulai dari kuliah lo, sikap tentang mamah lo, skripsi lo,,

    Lo butuh dukungan dari orang orang tersayang, coba keluarin unek2 semuanya mungkin ke ayah dulu, atau ke mamah keluarin semuanya sampek senangis nangisnya..

    Soalnya menurut gue,, walaupun jurusan kuliah itu sangat menyebalkan bagu kita.. Namun dengan atas harapan orang tua kita, ya mau gak mau kita harus menyelesaikannya sampai tuntas..
    Gue juga gitu,, gue merasa kuliah gue biasa2 aja.. walaupun nilai gue gak terlalu bagus atau terlalu jelek,, ya terkadang gak ada kepuasan dalam diri kita kan karena jurusan kuliah saat ini itu bukan minat kita..

    Tapi kao semua beban itu lo jalani seikhlas lo dan semampu lo kemudian diiringi DOA & SEMANGAT ORANG TUA,, mungkin itu akan mengurangi beban lo dan lo bisa menjalani semua ini..

    Jadi, coba lo terus terang dulu sama orang tua lo, minta doa dan dukungannya...
     
  12. Mimi16

    Mimi16 Member

    Senasib dg aku kak jalan hidup aku dipegang erat sama ortu, walaupun aku gak pernah sependapat sama mereka. cita2 kita juga sama pengen jdi psikologi :) tapi bedanya aku masih kelas 10 mau naik kelas 11 inipun sekolah dipesantren karna kehendak ortu. padahal nilai aku unggul di pelajaran umum loh.. aku nurut aja yaa walaupun harus melewati masa berat depresi. pesantren ini sulit buat kuliah karna aku bkal ketinggal banyak pelajaran.
    aku udah lupain semua nilai2 unggul, semua pelajaran yg aku suka. disinipun kadang aku sering membolos, ulangan slalu nyontek, tiap hari nangis dan ngurung diri dikamar.
    setelah aku searching digoogle aku liat bisa jdi psikologi tpi dg cara otodidak (karna kuliah sulit kata ku tdi uangnya pun drimana? ekonomi kluarga kn cuma seadanya) yaa harapan aku cuma satu sih bisa bantu masalah orang sekitar. meskipun masalah sendiri sulit diselesaikan :D bisa bikin orang bahagia pun aku udah bahagia
     

Share This Page